This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 10 September 2012

pemeriksaan gula reduksi

Gula reduksi

Pengertian Karbohidrat
adalah senyawa organik terdiri dari unsur karbon, hidrogen, dan oksigen. contoh; glukosa C6H12O6, sukrosa C12H22O11, sellulosa (C6H10O5)n. Rumus umum karbohidrat Cn(H2O)m. Karena komposisi yang demikian, senyawa ini pernah disangka sebagai hidrat karbon, tetapi sejak 1880, senyawa tersebut bukan hidrat dari karbon. Nama lain dari karbohidrat adalah sakarida, berasal dari bahasa Arab "sakkar" artinya gula. Karbohidrat sederhana mempunyai rasa manis sehingga dikaitkan dengan gula. Melihat struktur molekulnya, karbohidrat lebih tepat didefinisikan sebagai suatu polihidroksialdehid ataupolihidroksiketon. Contoh glukosa; adalah suatu polihidroksi aldehid karena mempunyai satu gugus aldehid da 5 gugus hidroksil (OH).

  Klasifikasi Karbohidrat terbagi menjadi 3 kelompok;
1. monosakarida, yi terdiri atas 3-6 atom C dan zat ini tidak dapat lagi dihidrolisis oleh larutan asam dalam air menjadi karbohidrat yg lebih sederhana.
 2. disakarida, yi senyawanya terbentuk dari 2 molekul monosakarida yg sejenis atau tidak. Disakarida dpt dihidrolisis oleh larutan asam dalam air sehingga terurai menjadi 2 molekul monosakarida.
 3. polisakarida, yi senyawa yg terdiri dari gabungan molekul2 monosakarida yg banyak jumlahnya, senyawa ini bisa dihidrolisis menjadi banyak molekul monosakarida.

 Fungsi Bagi manusia;
sbg sumber energi. Bagi tumbuhan; amilum sebagai cadangan makanan, sellulosa sbg pembentuk kerangka bagi tumbuhan. Tumbuhan mendapat amilum dan selulosa dari glukosa. Glukosa dihasilkan pada fotosintesis 

Beberapa monosakarida penting
Glukosa
Glukosa disebut juga gula anggur karena terdapat dalam buah anggur, gula darah karena terdapat dalam darah atau dekstrosa karena memutarkan bidang polarisasi kekanan. Glukosa merupakan monomer dari polisakarida terpenting yaitu amilum, selulosa dan glikogen. Glukosa merupakan senyawa organik terbanyak. terdapat pada hidrolisis amilum, sukrosa, maltosa, dan laktosa.
 Fruktosa
Fruktosa terdapat dalam buah2an, merupakan gula yang paling manis. Bersama2 dengan glukosa merupakan komponen utama dari madu. Larutannya merupakan pemutar kiri sehingga fruktosa disebut juga levulosa. Ribosa dan 2-deoksiribosa
Ribosa da 2-deoksiribosa adalah gula pentosa yg membentuk RNA dan DNA. 

Sifat2 monosakarida 
1. semua monosakarida zat padat putih, mudah larut dalam air.
 2. larutannya bersifat optis aktif.
 3. larutan monosakarida yg baru dibuat mengalami perubahan sudut putaran disebut mutarrotasi.
 4. contoh larutan alfaglukosa yang baru dibuat mempunyai putaran jenis + 113` akhirnya tetap pada + 52,7`.
 5. umumnya disakarida memperlihatkan mutarrotasi, tetapi polisakarida tidak.
 6. semua monosakarida merupakan reduktor sehingga disebut gula pereduksi.

 Identifikasi monosakarida 
1. uji umum utk karbohidrat adalah uji Molisch. bila larutan karbohidrat diberi beberapa tetes larutan alfa-naftol, kemudian H2SO4 pekat secukupnya sehingga terbentuk 2 lapisan cairan, pada bidang batas kedua lapisan itu terbentuk cincin ungu.
 2. gula pereduksi yaitu monosakarida dan disakarida kecuali sukrosa dapat ditunjukkan dg pereaksi Fehling atau Bennedict. Gula pereduksi bereaksi dg pereaksi Fehling atau Benedict menghasilkan endapan merah bata (Cu2O). Selain Pereaksi Benedict dan Fehling, gula pereduksi juga bereaksi positif dg pereaksi Tollens. 3. reaksi Seliwanoff (khusus menunjukkan adanya fruktosa). Pereaksi seliwanoff terdiri dari serbuk resorsinol + HCl encer. Bila fruktosa diberi pereaksi seliwanoff dan dipanaskan dlm air mendidih selama 10 menit akan terjadi perubahan warna menjadi lebih tua
. O O ║ ║ C H C OH │ │ (CHOH)4 + 2CUO (CHOH)4 + CU2O↓ │ Fehling │ cermin tembaga CH2OH CH2OH Glukosa as. glukonat

 Pengujian karbohidrat dengan metode luff schoorl pengujian kadar karbohidrat dengan metode Luff Schoorl
PENETAPAN KARBOHIDRAT METODE LUFF SCHOORL Metode Luff Schoorl ini baik digunakan untuk menentukan kadar karbohidrat yang berukuran sedang. Dalam penelitian M.Verhaart dinyatakan bahwa metode Luff Schoorl merupakan metode tebaik untuk mengukur kadar karbohidrat dengan tingkat gula pe-reduksi karbohidratLuff SchoorlLuff Schoorlasagisora. glukosa sukrosa sakarosa maltosa . glukosa sukrosa sakarosa maltosa Luff Schoorl pengujian kadar karbohidrat dengan metode Luff Schoorl Luff Schoorl « Queen Of Sheeba's Weblog 16 Nov 2009 metode panduan langkah langkah prosedur ratu belqis Metode Luff Schoorl mempunyai kelemahan yang terutama disebabkan metode panduan langkah langkah prosedur komposisi yang konstan. Hal ini diketahui dari penelitian A.M Maiden yang menjelaskan bahwa hasil pengukuran yang dipermetode panduan langkah langkah prosedur dibedakan metode panduan langkah langkah prosedur pebuatan gula pe-reduksi karbohidratLuff SchoorlLuff Schoorlqueenofsheeba.wordpress. glukosa sukrosa sakarosa maltosa Luff Schoorl - Telusuran lainnya dari Queen Of Sheeba's Weblog pengujian kadar karbohidrat dengan metode Luff Schoorl catatan: polihidroksi keton 15 Okt 2010 metode panduan langkah langkah prosedur m.ali musthofa Pada praktikum kali ini dilakukan penetapan karboohidrat melalui penetapan kadar gula reduksi dengan metode… Penentuan gula reduksi dengan metode Luff-Schoorl ditentukan bukan kuprooksidanya yang mengendap tetapi dengan gula pe-reduksi karbohidratLuff SchoorlLuff Schoorlmalimusthofa. glukosa sukrosa sakarosa maltosa . glukosa sukrosa sakarosa maltosa Luff Schoorl pengujian kadar karbohidrat dengan metode Luff Schoorl Tiva Chem Chem: Analisis Kualitatif dan Kuantitatif Karbohidrat gula pe-reduksi 29 Okt 2010 metode panduan langkah langkah prosedur Yaktiva Dwi Purnama Pada penentuan karbohidrat dengan metode Luff Schoorl, yang ditentukan bukan Cu2O yang mengendap tapi dengan menggunakan CuO dalam larutan yang belum direaksikan dengan gula reduksi (titrasi blanko) dan sesudah gula pe-reduksi karbohidratLuff SchoorlLuff Schoorltivachemchem. glukosa sukrosa sakarosa maltosa . glukosa sukrosa sakarosa maltosa Luff Schoorl pengujian kadar karbohidrat dengan metode Luff Schoorl hana's Site - Luff Schoorl 29 Jun 2009 Sapa tuh Luff Schoorl??? Gw jg ga tau sapa ni orang sebenarnya. Tapi yang pasti gara-gara nih orang gw kelimpungan jungkir balik nyari tinpus tentang metode Luff Schoorl. Yang pernah percobaan bwat nyari kandungan pati atopun gula gula pe-reduksi karbohidratLuff SchoorlLuff Schoorlsaintefleur.multiply. glukosa sukrosa sakarosa maltosa Luff Schoorlblog - Telusuran lainnya dari hana's Site pengujian kadar karbohidrat dengan metode Luff Schoorl thata's zone: Penentuan Kharbohidrat 29 Mei 2010 metode panduan langkah langkah prosedur thata zone Metode penetapan secara kimia meliputi: luff schoorl , munson-walker, lane eynon , nelson-somogy , Oksidasi ferri ,Iodometri (Sukatiningsih, 2010). Analisa karbohidrat dapat dilakukan terhadap kandungan total karbohidrat gula pe-reduksi karbohidratLuff SchoorlLuff Schoorleremjezone. glukosa sukrosa sakarosa maltosa . glukosa sukrosa sakarosa maltosa Luff Schoorl pengujian kadar karbohidrat dengan metode Luff Schoorl Karya Ilmiah: Tugas Akhir Teknik Kimia PNL Thn 2009 30 Okt 2010 metode panduan langkah langkah prosedur Teuku Maulana Metode yang digunakan yaitu dengan cara pengecilan ukuran, blansing, pengeringan, penggilingan dan pengayakan. Hasil yang didapat yaitu 106 gr untuk waktu blansing 5 menit, 108 gr untuk waktu 10 menit, 107 gr untuk waktu 15 gula pe-reduksi.. Pindahkan isinya kedalam labu ukur 500 ml lalu impitkan higga tanda garis; Pipet 10 ml saringan kedalam erlemeyer 500 ml, tambahkan 25 ml larutan luff-schoorl (dengan pipet) dan beberapa butir batu didih serta 15 ml air suling. gula pe-reduksi karbohidratLuff SchoorlLuff Schoorlmolana88. glukosa sukrosa sakarosa maltosa . glukosa sukrosa sakarosa maltosa Luff Schoorl pengujian kadar karbohidrat dengan metode Luff Schoorl Analisa Gula Pada Jeruk Siam dan Sunkis « HIMPUNAN MAHASISWA BAHAN gula pe-reduksi 24 Jul 2009 metode panduan langkah langkah prosedur himabatpl08 Pada makalah ini metode yang digunakan adalah metode Luff Schoorl. Dipilih metode ini karena sangat menguntungkan dalam menganalisa gula nabati yang termasuk sukrosa yang merupakan rasa manis dasar sakarosa adalah gula pe-reduksi karbohidratLuff SchoorlLuff Schoorlhimabatpl08.wordpress. glukosa sukrosa sakarosa maltosa Luff Schoorl pengujian kadar karbohidrat dengan metode Luff Schoorl Analisis Karbohidrat « Food for Healthy 10 Okt 2008 metode panduan langkah langkah prosedur food4healthy gini pernah dngr g tentng metode knight dan allen,metode berlin institute, metode lane eynon,metode luff schoorl smuanya untk mneliti yg berhubungn dgn sifat mereduksi gula invert dlm sukrosa,kl mas tau bisa di jelasin, gula pe-reduksi karbohidratLuff SchoorlLuff Schoorlfood4healthy.wordpress. glukosa sukrosa sakarosa maltosa Luff Schoorl - Referensi pengujian kadar karbohidrat dengan metode Luff Schoorl PENGARUH PERLAKUAN UAP PANAS, PEREBUSAN, DAN PERENDAMAN TERHADAP gula pe-reduksi 23 Sep 2007 metode panduan langkah langkah prosedur Administrator Serbuk contoh selanjutnya dianalisis kadar patinya dengan metode Luff Schoorl. Selain itu, dilakukan juga pengukuran kadar gula total dalam larutan sisa perendaman (Luff Schoorl), kadar air (ASTM D 2016-74), kelarutan dalam gula pe-reduksi karbohidratLuff SchoorlLuff Schoorlbiomaterial-lipi.orgLuff SchoorldhyyLuff Schoorl 

 PENETAPAN KARBOHIDRAT METODE LUFF SCHOORL

PENDAHULUAN

Latar Belakang
 Karbohidrat secara sederhana dapat diartikan suatu senyawa yang terdiri dari molekul-molekul karbon (C), hidrogen (H) dan oksigen (O) atau karbon dan hidrat (H2O) sehingga dinamakan karbo-hidrat. Dalam tumbuhan senyawa ini dibentuk melaui proses fotosintesis antara air (H2O) dengan karbondioksida (CO2) dengan bantuan sinra matahari (UV) menghasilkan senyawa sakarida dengan rumus (CH2O)n. Ada banyak fungsi dari karbohidrat dalam penerapannya di industri pangan, farmasi maupun dalam kehidupan manusia sehari-hari. Diantara fungsi dan kegunaan itu ialah: Sebagai sumber kalori atau energy, sebagai bahan pemanis dan pengawet, Sebagai bahan pengisi dan pembentuk, sebagai bahan penstabil, sebagai sumber flavor (karamel), dan sebagai sumber serat (Winarno 2007). Karbohidrat dapat digolongan menjadi dua macam yaitu karbohidrat sederhana dengan karbohidrat kompleks atau dapat pula menjadi tiga macam, yaitu monosakarida, disakarida, dan polisakarida. Gula adalah suatu karbohidrat sederhana yang menjadi sumber energi dan merupakan oligosakarida, polimer. Pengukuran karbohidrat yang merupakan gula pereduksi dengan metode Luff Schoorl ini didasarkan pada reaksi sebagai berikut : R-CHO + 2 Cu2+ R-COOH + Cu2O 2 Cu2+ + 4 I- Cu2I2 + I2 2 S2O32- + I2 S4O62- + 2 I- Monosakarida akan mereduksikan CuO dalam larutan Luff menjadi Cu2O. Kelebihan CuO akan direduksikan dengan KI berlebih, sehingga dilepaskan I2. I2 yang dibebaskan tersebut dititrasi dengan larutan Na2S2O3. Pada dasarnya prinsip metode analisa yang digunakan adalah Iodometri karena kita akan menganalisa I2 yang bebas untuk dijadikan dasar penetapan kadar. Dimana proses iodometri adalah proses titrasi terhadap iodium (I2) bebas dalam larutan. Apabila terdapat zat oksidator kuat (misal H2SO4) dalam larutannya yang bersifat netral atau sedikit asam penambahan ion iodida berlebih akan membuat zat oksidator tersebut tereduksi dan membebaskan I2 yang setara jumlahnya dengan dengan banyaknya oksidator (Winarno 2007). I2 bebas ini selanjutnya akan dititrasi dengan larutan standar Na2S2O3 sehinga I2 akan membentuk kompleks iod-amilum yang tidak larut dalam air. Oleh karena itu, jika dalam suatu titrasi membutuhkan indikator amilum, maka penambahan amilum sebelum titik ekivalen. Metode Luff Schoorl ini baik digunakan untuk menentukan kadar karbohidrat yang berukuran sedang. Dalam penelitian M.Verhaart dinyatakan bahwa metode Luff Schoorl merupakan metode tebaik untuk mengukur kadar karbohidrat dengan tingkat kesalahan sebesar 10%. Pada metode Luff Schoorl terdapat dua cara pengukuran yaitu dengan penentuan Cu tereduksi dengan I2 dan menggunakan prosedur Lae-Eynon (Anonim 2009). Metode Luff Schoorl mempunyai kelemahan yang terutama disebabkan oleh komposisi yang konstan. Hal ini diketahui dari penelitian A.M Maiden yang menjelaskan bahwa hasil pengukuran yang diperoleh dibedakan oleh pebuatan reagen yang berbeda.

 Tujuan Praktikum
 penetapan kadar karbohidrat bertujuan mengukur kadar gula dengan metode Luff Schoorl

 METODOLOGI
 Waktu dan Tempat Praktikum penetapan kadar protein dilaksanakan hari Kamis tanggal 1 April 2010, jam 13.00 hingga 16.00 WIB. Pelaksanaan praktikum di Laboratorium Analisis Zat gizi makro, Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor. 

 Alat dan Bahan
 Alat-alat yang digunakan adalah labu takar, pipet tetes, erlenmeyer, buret, gelas ukur, kertas saring. Selanjutnya, bahan-bahan yang digunakan adalah Pb Asetat setengah basa, Na2HPO4 10 %, KI 30 %, H2SO4 25 %, Na2S2O3 0,1 N, larutan Luff, aquades, indikator PP.

 Prosedur Kerja
 Contoh sebanyak 5-10 gram ditimbang dan dimasukkan ke dalam labu takar 250 ml serta ditambah air aquades hingga tanda tera. ↓ Disaring dan dipipet 50 ml filtratnya, dimasukkan ke dalam labu takar 250 ml. Ditambahkan 10 ml Pb asetat setengah basa kemudian dikocok. Dites dengan tetesan larutan Na2HPO4 10 %. Bila timbul endapan putih berarti sudah cukup. ↓ Ditambahkan air hingga tanda tera, dikocok dan dibiarkan sekitar 30 menit dan kemudian disaring. Sebelum terjadi Inversi Filtrat sebanyak 10 ml dipipet ke dalam labu erlenmeyer 500 ml bertutup asah. Ditambahkan 15 ml air , dan 25 ml larutan luff. ↓ Dipanaskan selama 2 menit sampai mendidih dan didihkan terus selama 10 menit dengan nyala kecil. Diankat dan didinginkan cepat. ↓ Setelah dingin ditambahkan 10-15 ml KI 30 % dan 25 ml H2SO4 25 % dengan pelan-pelan. ↓ Dititrasi dengan larutan tio 0,1 N dan larutan kanji 0,5 % sebagai indikator setelah larutan menjadi berwarna putih kekuningan. Setelah terjadi inversi Filtrat sebanyak 50 ml dipipet dan dimasukkan dalam labu takar 100 ml. Ditambahkan 5 ml HCL 25 % kemudian labu dimasukkan ke dalam penangas air dengan suhu 60-70 0C. ↓ Dibiarkan selama 10 menit agar menginversi gula-gula. ↓ Diangkat dan didinginkan, ditambahkan NaOH 30 % hingga merah jambu ↓ Tepatkan hingga tanda tera dan kocok secukupnya. ↓ Dipipetkan 10 ml larutan ini dan tetapkan gula sesudah inversi dengan cara di atas. Dari selisih kedua penitaran dapat diahitung jumlah glukosa fruktosa atau gula invert dengan menggunakan daftar.

 TINJAUAN PUSTAKA
 Gula Gula adalah suatu karbohidrat sederhana yang menjadi sumber energi dan merupakan oligosakarida, polimer dengan derajat polimerisasi 2-10 dan biasanya bersifat larut dalam air yang terdiri dari dua molekul yaitu glukosa dan fruktosa. Gula memberikan flavor dan warna melalui reaksi browning secara non enzimatis pada berbagai jenis makanan. Gula paling banyak diperdagangkan dalam bentuk kristal sukrosa padat. Gula digunakan untuk mengubah rasa menjadi manis dan keadaan makanan atau minuman. Dalam industri pangan, sukrosa diperoleh dari bit atau tebu (Winarno 1997). Inversi Sukrosa Inversi sukrosa menghasilkan gula invert atau gula reduksi (glukosa dan fruktosa). Gula invert akan mengkatalisis proses inversi sehingga kehilangan gula akan berjalan dengan cepat. Menurut Parker (1987) dkk. Dalam kuswurj (2008) laju inersi sukrosa akan semakin besar pada kondisi pH rendah dan temperatur tinggi dan berkurang pada pH tinggi (pH 7) dan temperatur rendah. Laju inversi yang paling cepat adalah pada kondisi pH asam (pH 5) (Winarno 2007). Luff Schoorl Penentuan kadar glukosa dilakukan dengan cara menganalisis sampel melalui pendekatan proksimat. Terdapat beberapa jenis metode yang dapat dilakukan untuk menentukan kadar gula dalam suatu sampel. Salah satu metode yang paling mudah pelaksanaannya dan tidak memerlukan biaya mahal adalah metode Luff Schoorl. Metode Luff Schoorl merupakan metode yang digunakan untuk menentukan kandungan gula dalam sampel. Metode ini didasarkan pada pengurangan ion tembaga (II) di media alkaline oleh gula dan kemudian kembali menjadi sisa tembaga. Ion tembaga (II) yang diperoleh dari tembaga (II) sulfat dengan sodium karbonat di sisa alkaline pH 9,3-9,4 dapat ditetapkan dengan metode ini. Pembentukan (II)-hidroksin dalam alkaline dimaksudkan untuk menghindari asam sitrun dengan penambahan kompleksierungsmittel. Hasilnya, ion tembaga (II) akan larut menjadi tembaga (I) iodide berkurang dan juga oksidasi iod menjadi yodium. Hasil akhirnya didapatkan yodium dari hasil titrasi dengan sodium hidroksida (Anonim 2010). Gula Pereduksi Gula pereduksi yaitu monosakarida dan disakarida kecuali sukrosa dapat ditunjukkan dengan pereaksi Fehling atau Benedict menghasilkan endapan merah bata (Cu2O). selain pereaksi Benedict dan Fehling, gula pereduksi juga bereaksi positif dengan pereaksi Tollens (Apriyanto et al 1989). Penentuan gula pereduksi selama ini dilakukan dengan metode pengukuran konvensional seperti metode osmometri, polarimetri, dan refraktrometri maupun berdasarkan reaksi gugus fungsional dari senyawa sakarida tersebut (seperti metode Luff-Schoorl, Seliwanoff, Nelson-Somogyi dan lain-lain). Hasil analisisnya adalah kadar gula pereduksi total dan tidak dapat menentukan gula pereduksi secara individual. Untuk menganalisis kadar masing-masing dari gula pereduksi penyusun madu dapat dilakukan dengan menggunakan metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCTK). Metode ini mempunyai beberapa keuntungan antara lain dapat digunakan pada senyawa dengan bobot molekul besar dan dapat dipakai untuk senyawa yang tidak tahan panas (Gritter et al 1991 dalam Swantara 1995).

 HASIL DAN PEMBAHASAN 
 Praktikum kali ini dilakukan untuk menetapkan kadar sukrosa pada berbagai jenis cairan yang mengandung gula dengan menggunakan metode luff schoorl. Jenis cairan yang digunakan pada percobaan ini adalah Buavita rasa apel. Gula adalah suatu karbohidrat sederhana yang menjadi sumber energi dan merupakan oligosakarida, polimer dengan derajat polimerisasi 2-10 dan biasanya bersifat larut dalam air yang terdiri dari dua molekul yaitu glukosa dan fruktosa. Gula memberikan flavor dan warna melalui reaksi browning secara non enzimatis pada berbagai jenis makanan. Gula paling banyak diperdagangkan dalam bentuk kristal sukrosa padat. Gula digunakan untuk mengubah rasa menjadi manis dan keadaan makanan atau minuman. Dalam industri pangan, sukrosa diperoleh dari bit atau tebu (Winarno 1997). Penentuan kadar glukosa dilakukan dengan cara menganalisis sampel melalui pendekatan proksimat. Terdapat beberapa jenis metode yang dapat dilakukan untuk menentukan kadar gula dalam suatu sampel. Salah satu metode yang paling mudah pelaksanaannya dan tidak memerlukan biaya mahal adalah metode Luff Schoorl. Metode Luff Schoorl merupakan metode yang digunakan untuk menentukan kandungan gula dalam sampel. Metode ini didasarkan pada pengurangan ion tembaga (II) di media alkaline oleh gula dan kemudian kembali menjadi sisa tembaga. Ion tembaga (II) yang diperoleh dari tembaga (II) sulfat dengan sodium karbonat di sisa alkaline pH 9,3-9,4 dapat ditetapkan dengan metode ini. Pembentukan (II)-hidroksin dalam alkaline dimaksudkan untuk menghindari asam sitrun dengan penambahan kompleksierungsmittel. Hasilnya, ion tembaga (II) akan larut menjadi tembaga (I) iodide berkurang dan juga oksidasi iod menjadi yodium. Hasil akhirnya didapatkan yodium dari hasil titrasi dengan sodium hidroksida (Anonim 2010). Penetapan kadar sukrosa pada Buavita dengan metode ini dilakukan dengan dua tahap yaitu pengukuran kadar gula sebelum inversi dan sebelum inversi. Pada percobaan ini diambil sampel sebanyak 5 gram. Adapun hasil percobaan penetapan kadar sukrosa pada Buavita dapat dilihat dalam tabel 2. Tabel 1 Hasil Percobaan Penetapan kadar sukrosa pada buavita Kelompok 5 (lima) Sampel Buavita Berat sampel 5059,3 mg Volume blanko 41,3 ml Volume larutan tiosulfat sebelum inversi 40,8 ml Volume larutan tiosulfat setelah inversi 40,5 ml Bobot gula sebelum inverse 0,641 mg Bobot gula setelah inverse 1,002 mg Kadar gula sebelum inverse 3,17 mg/ml Kadar gula setelah inverse 101,04 mg/ml % sukrosa 0,092 % Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa sampel yang digunakan yaitu buavita rasa apel. Sebanyak 5059,3 mg sampel digunakan untuk penetapan kadar gula asli dengan menggunakan metode ini. Volume blanko yang digunakan adalah 41,3 ml. Dalam metode ini dilakukan dua tahap percobaan yaitu tahap sebelum terjadi inversi dan tahap setelah terjadi inversi. Pada tahap sebelum inversi, larutan tio yang digunakan sebanyak 40,8 ml sehingga menghasilkan kandungan glukosa sebanyak 0,641 mg dan kadar gulanya sebesar 3,17 mg/ml. Sedangkan pada tahap setelah inversi, larutan tio yang digunakan sebanyak 40,5 ml sehingga menghasilkan kandungan glukosa sebanyak 1,022 mg dan kadar gulanya sebesar 101,04 mg/ml. Persentase kadar sukrosa diperoleh dengan cara persen gula sesudah inversi dikurangi persen gula sebelum inversi kemudian dikalikan dengan 0,95. Setelah dilakukan perhitungan, persentase kadar sukrosa yang terdapat pada buavita rasa apel yaitu sebesar 92,97% atau 0,092 gram/100 gram bahan. Berdasarkan tabel nutrition fact yang terdapat pada kemasan buavita rasa apel disebutkan bahwa kadar gula total dalam 100 gram bahan adalah 10,4 gram. Dengan demikian, kadar gula yang terdapat pada Buavita yang diperoleh dari percobaan ini tidak sesuai dengan kadar gula yang terdapat pada tabel nutrition fact karena persentase kadar gula hasil percobaan ini jauh lebih rendah dari kadar gula pada nutrition fact yang terdapat pada kemasan buavita tersebut. Hal ini dapat disebabkan, produsen buavita menggunakan gula atau pemanis buatan yang terlalu untuk meminimalkan biaya produksinya. Tabel 1 Penelitian kadar sukrosa pada buavita Kel. Sampel Sampel (mg) Blanko (ml) Tio sblm (ml) Gula sblm inversi (mg) Gula stlh inversi (mg) Kadar gula sblm inversi (mg) Kadar gula stlh inversi (mg) Tio stlh (ml) % sukrosa 2 Kecap 2042 41,3 40 1,68 0,2 0,2 7,05 39 6,5 3 Sirup 2035,5 41,3 37,9 4,32 0,53 0,53 4 40 3,29 4 Teh Sosro 5034,1 41,3 41 0,384 1,91 1,91 26,5 40,8 24,6 5 Buavita 5059.3 41,3 40.8 0.641 1.022 3.17 101.04 40.5 0.092 6 Freshtea 5060 41,3 40,2 1,416 0,38 6,9960 37,55 41 29.03 Berdasarkan hasil praktikum, maka diperoleh hasil kadar sukrosa terendah ada pada Buafita sebesar 0,092%, kemudian sirup dengan kandungan sukrosanya sebesar 3,29%, kecap dengan kandungan sukrosanya sebesar 6,5%, kemudian Teh Botol Sosro memiliki kandungan sukrosa sebesar 24,6%. Kandungan sukrosa tertinggi berada pada Fresh Tea yaitu sebesar 29,3%. kandungan sukrosa pada buafita karena gula yang digunakan telah direduksi berulang kali, sehingga kadar sukrosa yang berada di dalam Buafita hanya sebesar 0,092%. sedangkaan pada Fresh tea kandungan sukrosanya tinggi karena pada tidak mengalami pereduksian yang berulang-ulang.

 KESIMPULAN DAN SARAN 
 Kesimpulan Menentukan persen kadar gula yang terkandung dalam suatu bahan dapat dilakukan dengan cara persen gula sesudah inversi dikurangi persen gula sebelum inversi kemudian dikalikan dengan 0,95. Kadar gula yang terdapat pada Buavita yang diperoleh dari percobaan ini tidak sesuai dengan kadar gula yang terdapat pada tabel nutrition fact karena persentase kadar gula hasil percobaan ini jauh lebih rendah dari kadar gula pada nutrition fact yang terdapat pada kemasan buavita tersebut. Hal ini dapat disebabkan, produsen buavita menggunakan gula atau pemanis buatan yang terlalu untuk meminimalkan biaya produksinya. Saran Setelah melakukan praktikum penetapan kadar gula dengan metode Luff Schoorl, praktikan diharapkan mampu menentukan kadar kgula suatu bahan makanan. Dalam menentukan penetapan kadar gula ini, sebaiknya praktikan lebih cermat dalam melakukan langkah-langkah percobaan seperti penimbangan sampel awal agar tidak terjadi kesalahan yang akan berpengaruh pada perhitungan kadar gula sampel. LAMPIRAN Tabel 1 Hasil Percobaan Penetapan kadar sukrosa pada buavita Kelompok 5 (lima) Sampel Buavita Berat sampel 5059,3 mg Volume blanko 41,3 ml Volume larutan tiosulfat sebelum inversi 40,8 ml Volume larutan tiosulfat setelah inversi 40,5 ml Bobot gula sebelum inverse 0,641 mg Bobot gula setelah inverse 1,002 mg Kadar gula sebelum inverse 3,17 mg/ml Kadar gula setelah inverse 101,04 mg/ml % sukrosa 0,092 % Tabel 1 Penelitian kadar sukrosa pada buavita Kel. Sampel Sampel (mg) Blanko (ml) Tio sblm (ml) Gula sblm inversi (mg) Gula stlh inversi (mg) Kadar gula sblm inversi (mg) Kadar gula stlh inversi (mg) Tio stlh (ml) % sukrosa 2 Kecap 2042 41,3 40 1,68 0,2 0,2 7,05 39 6,5 3 Sirup 2035,5 41,3 37,9 4,32 0,53 0,53 4 40 3,29 4 Teh Sosro 5034,1 41,3 41 0,384 1,91 1,91 26,5 40,8 24,6 5 Buavita 5059.3 41,3 40.8 0.641 1.022 3.17 101.04 40.5 0.092 6 Freshtea 5060 41,3 40,2 1,416 0,38 6,9960 37,55 41 29.03 Contoh perhitungan (Buavita) Sebelum inversi = ml blanko – ml contoh = 41,3 – 40,8 = 0,5 ml tio = (0,5 ×0,0533 )/0,1 = 0,267 x 2,4 Kandungan glukosa = 0,6408 mg fp sebelum = (250 × 250 )/(50 × 5) = 250 Kadar gula = (0,6408 × 250 ×100 )/5059,3 × 100 = 3,17 mg/ml Sesudah inversi = ml blanko – ml contoh = 41,3 – 40,5 = 0,8 ml tio = (0,8 ×0,0533 )/0,1 = 0,426 x 2,4 Kandungan glukosa = 1,0224 mg fp sebelum = (250 × 250 ×100 )/(50 × 5 ×5) = 5000 Kadar gula = (1,0224 × 5000 )/5059,3 × 100 = 101,04 mg/ml Kadar glukosa = (% gula sesudah inverse – gula sebelum inverse) x 0,95 = (101,04 – 3,17) x 0,95 = 92,97% = 0,092 gram/100 gram bahan

 DAFTAR PUSTAKA
 Anonim. 2001. Luff Schoorl. www.wikipedia.org/Luff Schoorl (16 April 2010)
 Apriyanto A. 1989. Petunjuk Laboratorium Analisis Pangan. Bogor. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor.
 Aulana L. 2005. Pemanfaatan hidrolisis pati sagu untuk produksi asam laktat oleh Lactobassilus casei FNCC 266. [skripsi]. Bogor : Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Hartati NS dan Titik KP. 2003. Analisis Kadar Pati dan Serat. Yogyakarta. Kanisius Swantara DIM. 1995. Kromatografi Cair Kerja Tinggi Beberapa Senyawa Monosakarida dan Dosakarida serta Penerapannya Untuk Analisis Madu dan bahan Jenis lainnya. [Tesis]. Bandung : Universitas Padjadjaran.
 Winarno. 1997. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

Minggu, 30 Oktober 2011

kendali mutu 2

HITUNG JUMLAH LEKOSIT












Kelompok 3
Anggota :
1.Eko Sukarno (A.101.14.016)
2.Farida Tri Nuraini (A.101.14.017)
3.Fury Masnita Sari (A.101.14.018)
4.Gani Septa (A.101.14.019)
5.Hani Mukhlis S (A.101.14.020)
6. Hapsari Prasetyani (A.101.14.021)
7. Ida Ratna Sari (A.1O1.14.O22)



PENANGANAN SPESIMEN / SAMPEL
Hasil pemeriksaan laboratorium umumnya digunakan oleh dokter untuk membantu menentukan diagnosa, memantau perjalanan penyakit serta menentukan prognosa. Karena itu perlu diketahui faktor yang mempengaruhi hasil pemeriksaan laboratorium. Terdapat 3 faktor utama yang dapat mengakibatkan kesalahan hasil laboratorium , yaitu :
1.Pra analitik
2.Analitik
3. Post analitik
Pada tahap pra Analitik sangat penting diperlukan kerjasama antara petugas, pasien dan dokter. Yang termasuk dalam tahapan pra analitik adalah :
1. Pemahaman instruksi dan pengisian formulir laboratorium
2. Persiapan penderita / pasien
3. Persiapan alat yang dipakai
4. Cara pengambilan sampel
5. Penanganan awal sampel ( termasuk pengawetan ) dan transportasi

SPESIMEN DAN SAMPEL
A.Spesimen
Adalah sejumlah darah yang diambil untuk pemeriksaan satu jenis atau lebih tes labortorium
B Sampel
Adalah sebagian (aliquot) spesimen darah yang diambil, dikirim dan diproses di dalam laboratorium sebagai bahan untuk pemeriksaan tertentu. Contoh : aliquot dari Wholeblood dengan antikoagulan , aliquot dari plasma , aliquot dari serum

1.PENANGANAN SPESIMEN
A. MACAM SPESIMEN
Spesimen yang berasal dari manusia dapat berupa :
1.Serum 9. Apus rectum, Apus Tenggorok
2.Plasma 10. Pus
3.Darah (Wholeblood) 11. Sperma
4. 12. Cairan pleura

5.Tinja 13. Cairan ascites
6. Sputum 14. Sekret : - Uretra - Mata
7.Cairan otak - Telinga
8.Bilasan lambung - Hidung



B. Persiapan
1 . persiapan secara umum
a. persiapan pasien untuk mengambil spesimen pada keadaan basal :
1) untuk pemeriksaan tertentu pasien harus puasa 8-12 jam sebelum diambil darah
2) pengambilan spesimen sebaiknya pagi hari antara pukul 07.00 – 09.00
b. menghindari obat obatan sebelum spesimen diambil.
1) untuk pemeriksaan dengan spesimen darah, tidak minum obat 4 – 24 jam
Sebelum pengambilan spesimen.
2) untuk pemeriksaan dengan spesimen darah, tidak minum obat 48 – 72 jam
Sebelum pengambilan darah
3) apabila pemberian obat tidak memungkinkan untuk dihentikan harus
Diinformasikan kepada petugas laboratorium
c. menghindari aktivitas fisik sebelum spesimen diambil
d. memperhatikan efek postur
untuk menormalkan keseimbangan cairan tubuh dari posisi berdiri keposisi duduk
dianjurkan pasien duduk tenang sekurang kurangnya 15 menit sebelum
pemeriksaan.
e. memperhatikan ariasi diurnal ( perubahan kadar analit sepanjang hari )
pemeriksaan yang dipengaruhi variasi diurnalperlu diperhatikan waktu
pengambilan darahnya, (pemeriksaan ACTH, renin, aldosteron.




PROLOG PRA ANALISA PEMERIKSAAN HITUNG JUMLAH LEUKOSIT
Persiapan Alat
1. Metode pipet
a. Pipet thoma leukosit
b. Kamar hitung
c. Mikroskop
d. Aspirator
e. Deck glass
f. Lancet steril
g. Sampel darah
h. Alkohol 70%
i. Kapas
j. Larutan pengencer
2. Metode Tabung
a. Tabung serologi
b. Parafilm
c. Kamar hitung
d. Deck glass
e. Lancet steril
f. Mikroskop
g. Aspirator
h. Sampel darah
i. Alkohol 70%
j. Kapas
k. Larutan pengencer









Menghitung Leukosit
Darah diencerkan dalam pipet leukosit, kemudian dimasukkan ke dalam kamar hitung. jumlah leukosit dihitung dengan volume tertentu ; dengan mengenakan faktor konversi jumlah leukosit per ul darah dapat diperhitungkan. larutan TURK digunakan sebagai larutan pengencer, dengan komposisi : larutan gentianviolet 1% dalam air 1 ml, asam asetat glasial 1 ml, aquadest ad 100 ml. saringlah sebelum dipakai.
Cara :
• Mengisi pipet Leukosit
1. Isaplah darah kapiler (kapiler, EDTA, atau oxalat) sampai pada garis tanda “0,5″ tepat.
2. Hapus kelebihan darah yang melekat pada ujung pipet
3. Masukkan ujung pipet kedalam larutan TURK sambil mempertahankan darah tetap pada garis tan tadi. pipet dipegang dengan sudut 45 derajat dan larutan TURK dihisap perlahan-lahan sampai garis tanda “11″ tepat. Hati-hati jangan sampai terjadi gelembung udara.
4. Angkatlah pipet dari cairan; tutup ujung pipet dengan ujung jari kemudian lepaskan karet penghisap.
5. Kocoklah pipet tadi selama 15-30 detik. jika tidak segera akan dihitung letakkan pipet dalam posisi horizontal.
• Mengisi kamar hitung
1. Letakkan kamar hitung yang telah benar-benar bersih dengan kaca penutup yang terpasang mendatar di atas meja.
2. Kocoklah pipet yang berisi tadi selama 3 menit terus menerus (jangan samapai ada cairan yang terbuang dari pipet saat mengocok)
3. Buang semua cairan yang ada pada batang kapiler pipet (3 – 4 tetes) dan kemudian sentuhkan ujung pipet (sudut 30 derajat) dengan menyinggung pinggir kaca penutup pada kamar hitung. Biarkan kamar hitung tersebut terisi cairan perlahan-lahan dengan gaya kapilaritasnya sendiri.
4. Biarkan kamar hitung yang sudah terisi tersebut selama 2-3 menit agar leukkosit-leukosit mengendap. jika tidak akan dihitung segera, simpan kamar hitung tersebut dalam cawan peti tertutup yang berisi kapas basah.
• Cara menghitung sel
1. Pakailah lensa objektif kecil (pembesaran 10x). turunkan lensa kondensor atau kecilkan diafragma mikroskop. meja mikroskop harus datar,
2. Kamar hitung dengan bidang bergaris diletakkan di bawah objektif dan fokus mikroskop diarahkan pada garis-garis bagi tersebut. Dengan sendirinya leukosit-leukosit akan jelas terlihat.
3. Hitunglah semua leukosit yang terdapat dalam keempat “bidang besar” pada sudut-sudut “seluruh permukaan yang dibagi”.
4. Mulailah menghitung dari sudut kiri atas, terus ke kanan, kemudian turun ke bawah dan dari kanan ke kiri dan seterusnya. Kadang ada sel yang menyinggung garis suatu bidang, sel-sel yang menyinggung garis batas sebelah kiri atau garis atas haruslah di hitung. Sebaliknya sel-sel yang menyinggung garis sebelah kanan dan bawah tidak boleh dihitung.
• Perhitungan
Pengenceran yang dilakukan pada pipet adalah 20 kali. Jumlah semua sel yang dihitung dalam keempat bidang itu dibagi 4 menunjukkan jumlah leukosit dalam 0,1 ul. Kalikan angka tersebut dengan 10 (untuk tinggi) dan 20 (untuk pengenceran) untuk mendapatkan jumlah leukosit dalam 1 ul darah. Singkatnya : Jumlah sel yang terhitung dikali 50 = jumlah leukosit per ul darah.
Catatan : Pengenceran yang lazim digunakan untuk menghitung leukosit adalah 20 kali, tetapi menurut keadaan (leukositosis tinggi atau leukopenia) pengenceran dapat diubah sesuai keadaan tersebut, lebih tinggi pada leukositosis dan lebih rendah pada leukopenia. Sedian darah dengan oxalat yang tidak segera dipakai ada kemungkinan terjadi penggumpalan leukosit. Jika darah tepi banyak mengandung sel darah merah berinti maka sel tersebut akan diperhitungkan seperti leukosit, untuk koreksi dapat dilakukan pemeriksaan sedian hapus yang dipakai untuk hitung jenis leukosit, persentase sel darah merah berinti di catat. misalnya ; didapatkan 10.000 leukosit per ul darah dan dari hitung jenis didapatkan tiap 100 leukosit ada 25 sel darah merah berinti, maka jumlah leukosit yang sebenarnya adalah :








Kesalahan kesalahan pada tindakan menghitung leukosit
1.jumlah darah yang dihisap kedalam pipet tidak tepat jika :
a. bekerja terlalu lambat sehingga ada bekuan darah
b. tidak mencapai garis tanda 0,5
c. membaca dengan paralaks
d.memakai pipet basah
e. mengeluarkan sebagaian darah yang telah dihisapkarena meleati garis tanda 0,5
2. pengenceran dalam pipet salah jika :
a. kehilangan cairan dari pipet, karena mengalir kembali kedalam botol yang berisi larutan Turk
b. tidak menghisap larutan Turk tepat sampai garis 11
c. terjadi gelembung udara didalam pipet pada waktu menghisap larutan Turk.
d. terbuang sedikit cairan pipet pada waktu mengocok pipet atau pada waktu mencabut karet penghisap dari pipet
3. tidak mengocok pipet segera setelah mengambil larutan Turk
4. tidak mengocok pipet sebentar sebelum mengisi kamar hitung.
5. tidak membuang beberapa tetes dari isi pipet sebelum mengisi kamar hitung.
6. yang bertalian dengan kamar hitung dan teknik menghitung
a. kamar hitung atau kaca penutup kotor
b. ada gelembung udara termasuk bersama dengan cairan
c. letaknya kaca penutup salah
d. meja mikroskop tidak rata air
e. salah menghitung sel yang menyinggung garis garis batas
f. kaca penutup tergeser karena disentuh dengan lensa mikroskop






Hasil pemeriksaan.
Hitung jumlah sel leukosit / ml darah, yang dikerjakan kurang dari 2 jam.
Harga normal : 4.000.000 – 11.000.000 sel / ml darah.











Desain form permintaan

PEMERINTAH KABUPATEN WONOGIRI
PUSKESMAS PURWANTORO II
JL. RAYA WONOGIRI – PONOROGO KM 43
WONOGIRI 57695
No. Lab : Sex :
Tanggal : Alamat :
Nama : Dokter :
Umur :


HASIL PEMERIKSAAN

Pemeriksaaan Hasil Angka Normal Satuan Ket
Hemoglobin
Eritrosit
Lekosit
Trombosit
LED
Hitung jenis
Basofil
Eosinofil
Batang
Segmen
Limfosit
Monosit
Hematokrit
Gol darah
Malaria
Widal
S. Typhi O
S. Typhi H
S. Typhi AH

Petugas



Nurul Ricka Dwi R

kendali mutu

HITUNG JUMLAH LEKOSIT












Kelompok 3
Anggota :
1.Eko Sukarno (A.101.14.016)
2.Farida Tri Nuraini (A.101.14.017)
3.Fury Masnita Sari (A.101.14.018)
4.Gani Septa (A.101.14.019)
5.Hani Mukhlis S (A.101.14.020)
6. Hapsari Prasetyani (A.101.14.021)
7. Ida Ratna Sari (A.1O1.14.O22)



PENANGANAN SPESIMEN / SAMPEL
Hasil pemeriksaan laboratorium umumnya digunakan oleh dokter untuk membantu menentukan diagnosa, memantau perjalanan penyakit serta menentukan prognosa. Karena itu perlu diketahui faktor yang mempengaruhi hasil pemeriksaan laboratorium. Terdapat 3 faktor utama yang dapat mengakibatkan kesalahan hasil laboratorium , yaitu :
1.Pra analitik
2.Analitik
3. Post analitik
Pada tahap pra Analitik sangat penting diperlukan kerjasama antara petugas, pasien dan dokter. Yang termasuk dalam tahapan pra analitik adalah :
1. Pemahaman instruksi dan pengisian formulir laboratorium
2. Persiapan penderita / pasien
3. Persiapan alat yang dipakai
4. Cara pengambilan sampel
5. Penanganan awal sampel ( termasuk pengawetan ) dan transportasi

SPESIMEN DAN SAMPEL
A.Spesimen
Adalah sejumlah darah yang diambil untuk pemeriksaan satu jenis atau lebih tes labortorium
B Sampel
Adalah sebagian (aliquot) spesimen darah yang diambil, dikirim dan diproses di dalam laboratorium sebagai bahan untuk pemeriksaan tertentu. Contoh : aliquot dari Wholeblood dengan antikoagulan , aliquot dari plasma , aliquot dari serum

1.PENANGANAN SPESIMEN
A. MACAM SPESIMEN
Spesimen yang berasal dari manusia dapat berupa :
1.Serum 9. Apus rectum, Apus Tenggorok
2.Plasma 10. Pus
3.Darah (Wholeblood) 11. Sperma
4. 12. Cairan pleura

5.Tinja 13. Cairan ascites
6. Sputum 14. Sekret : - Uretra - Mata
7.Cairan otak - Telinga
8.Bilasan lambung - Hidung



B. Persiapan
1 . persiapan secara umum
a. persiapan pasien untuk mengambil spesimen pada keadaan basal :
1) untuk pemeriksaan tertentu pasien harus puasa 8-12 jam sebelum diambil darah
2) pengambilan spesimen sebaiknya pagi hari antara pukul 07.00 – 09.00
b. menghindari obat obatan sebelum spesimen diambil.
1) untuk pemeriksaan dengan spesimen darah, tidak minum obat 4 – 24 jam
Sebelum pengambilan spesimen.
2) untuk pemeriksaan dengan spesimen darah, tidak minum obat 48 – 72 jam
Sebelum pengambilan darah
3) apabila pemberian obat tidak memungkinkan untuk dihentikan harus
Diinformasikan kepada petugas laboratorium
c. menghindari aktivitas fisik sebelum spesimen diambil
d. memperhatikan efek postur
untuk menormalkan keseimbangan cairan tubuh dari posisi berdiri keposisi duduk
dianjurkan pasien duduk tenang sekurang kurangnya 15 menit sebelum
pemeriksaan.
e. memperhatikan ariasi diurnal ( perubahan kadar analit sepanjang hari )
pemeriksaan yang dipengaruhi variasi diurnalperlu diperhatikan waktu
pengambilan darahnya, (pemeriksaan ACTH, renin, aldosteron.




PROLOG PRA ANALISA PEMERIKSAAN HITUNG JUMLAH LEUKOSIT
Persiapan Alat
1. Metode pipet
a. Pipet thoma leukosit
b. Kamar hitung
c. Mikroskop
d. Aspirator
e. Deck glass
f. Lancet steril
g. Sampel darah
h. Alkohol 70%
i. Kapas
j. Larutan pengencer
2. Metode Tabung
a. Tabung serologi
b. Parafilm
c. Kamar hitung
d. Deck glass
e. Lancet steril
f. Mikroskop
g. Aspirator
h. Sampel darah
i. Alkohol 70%
j. Kapas
k. Larutan pengencer









Menghitung Leukosit
Darah diencerkan dalam pipet leukosit, kemudian dimasukkan ke dalam kamar hitung. jumlah leukosit dihitung dengan volume tertentu ; dengan mengenakan faktor konversi jumlah leukosit per ul darah dapat diperhitungkan. larutan TURK digunakan sebagai larutan pengencer, dengan komposisi : larutan gentianviolet 1% dalam air 1 ml, asam asetat glasial 1 ml, aquadest ad 100 ml. saringlah sebelum dipakai.
Cara :
• Mengisi pipet Leukosit
1. Isaplah darah kapiler (kapiler, EDTA, atau oxalat) sampai pada garis tanda “0,5″ tepat.
2. Hapus kelebihan darah yang melekat pada ujung pipet
3. Masukkan ujung pipet kedalam larutan TURK sambil mempertahankan darah tetap pada garis tan tadi. pipet dipegang dengan sudut 45 derajat dan larutan TURK dihisap perlahan-lahan sampai garis tanda “11″ tepat. Hati-hati jangan sampai terjadi gelembung udara.
4. Angkatlah pipet dari cairan; tutup ujung pipet dengan ujung jari kemudian lepaskan karet penghisap.
5. Kocoklah pipet tadi selama 15-30 detik. jika tidak segera akan dihitung letakkan pipet dalam posisi horizontal.
• Mengisi kamar hitung
1. Letakkan kamar hitung yang telah benar-benar bersih dengan kaca penutup yang terpasang mendatar di atas meja.
2. Kocoklah pipet yang berisi tadi selama 3 menit terus menerus (jangan samapai ada cairan yang terbuang dari pipet saat mengocok)
3. Buang semua cairan yang ada pada batang kapiler pipet (3 – 4 tetes) dan kemudian sentuhkan ujung pipet (sudut 30 derajat) dengan menyinggung pinggir kaca penutup pada kamar hitung. Biarkan kamar hitung tersebut terisi cairan perlahan-lahan dengan gaya kapilaritasnya sendiri.
4. Biarkan kamar hitung yang sudah terisi tersebut selama 2-3 menit agar leukkosit-leukosit mengendap. jika tidak akan dihitung segera, simpan kamar hitung tersebut dalam cawan peti tertutup yang berisi kapas basah.
• Cara menghitung sel
1. Pakailah lensa objektif kecil (pembesaran 10x). turunkan lensa kondensor atau kecilkan diafragma mikroskop. meja mikroskop harus datar,
2. Kamar hitung dengan bidang bergaris diletakkan di bawah objektif dan fokus mikroskop diarahkan pada garis-garis bagi tersebut. Dengan sendirinya leukosit-leukosit akan jelas terlihat.
3. Hitunglah semua leukosit yang terdapat dalam keempat “bidang besar” pada sudut-sudut “seluruh permukaan yang dibagi”.
4. Mulailah menghitung dari sudut kiri atas, terus ke kanan, kemudian turun ke bawah dan dari kanan ke kiri dan seterusnya. Kadang ada sel yang menyinggung garis suatu bidang, sel-sel yang menyinggung garis batas sebelah kiri atau garis atas haruslah di hitung. Sebaliknya sel-sel yang menyinggung garis sebelah kanan dan bawah tidak boleh dihitung.
• Perhitungan
Pengenceran yang dilakukan pada pipet adalah 20 kali. Jumlah semua sel yang dihitung dalam keempat bidang itu dibagi 4 menunjukkan jumlah leukosit dalam 0,1 ul. Kalikan angka tersebut dengan 10 (untuk tinggi) dan 20 (untuk pengenceran) untuk mendapatkan jumlah leukosit dalam 1 ul darah. Singkatnya : Jumlah sel yang terhitung dikali 50 = jumlah leukosit per ul darah.
Catatan : Pengenceran yang lazim digunakan untuk menghitung leukosit adalah 20 kali, tetapi menurut keadaan (leukositosis tinggi atau leukopenia) pengenceran dapat diubah sesuai keadaan tersebut, lebih tinggi pada leukositosis dan lebih rendah pada leukopenia. Sedian darah dengan oxalat yang tidak segera dipakai ada kemungkinan terjadi penggumpalan leukosit. Jika darah tepi banyak mengandung sel darah merah berinti maka sel tersebut akan diperhitungkan seperti leukosit, untuk koreksi dapat dilakukan pemeriksaan sedian hapus yang dipakai untuk hitung jenis leukosit, persentase sel darah merah berinti di catat. misalnya ; didapatkan 10.000 leukosit per ul darah dan dari hitung jenis didapatkan tiap 100 leukosit ada 25 sel darah merah berinti, maka jumlah leukosit yang sebenarnya adalah :








Kesalahan kesalahan pada tindakan menghitung leukosit
1.jumlah darah yang dihisap kedalam pipet tidak tepat jika :
a. bekerja terlalu lambat sehingga ada bekuan darah
b. tidak mencapai garis tanda 0,5
c. membaca dengan paralaks
d.memakai pipet basah
e. mengeluarkan sebagaian darah yang telah dihisapkarena meleati garis tanda 0,5
2. pengenceran dalam pipet salah jika :
a. kehilangan cairan dari pipet, karena mengalir kembali kedalam botol yang berisi larutan Turk
b. tidak menghisap larutan Turk tepat sampai garis 11
c. terjadi gelembung udara didalam pipet pada waktu menghisap larutan Turk.
d. terbuang sedikit cairan pipet pada waktu mengocok pipet atau pada waktu mencabut karet penghisap dari pipet
3. tidak mengocok pipet segera setelah mengambil larutan Turk
4. tidak mengocok pipet sebentar sebelum mengisi kamar hitung.
5. tidak membuang beberapa tetes dari isi pipet sebelum mengisi kamar hitung.
6. yang bertalian dengan kamar hitung dan teknik menghitung
a. kamar hitung atau kaca penutup kotor
b. ada gelembung udara termasuk bersama dengan cairan
c. letaknya kaca penutup salah
d. meja mikroskop tidak rata air
e. salah menghitung sel yang menyinggung garis garis batas
f. kaca penutup tergeser karena disentuh dengan lensa mikroskop






Hasil pemeriksaan.
Hitung jumlah sel leukosit / ml darah, yang dikerjakan kurang dari 2 jam.
Harga normal : 4.000.000 – 11.000.000 sel / ml darah.











Desain form permintaan

PEMERINTAH KABUPATEN WONOGIRI
PUSKESMAS PURWANTORO II
JL. RAYA WONOGIRI – PONOROGO KM 43
WONOGIRI 57695
No. Lab : Sex :
Tanggal : Alamat :
Nama : Dokter :
Umur :


HASIL PEMERIKSAAN

Pemeriksaaan Hasil Angka Normal Satuan Ket
Hemoglobin
Eritrosit
Lekosit
Trombosit
LED
Hitung jenis
Basofil
Eosinofil
Batang
Segmen
Limfosit
Monosit
Hematokrit
Gol darah
Malaria
Widal
S. Typhi O
S. Typhi H
S. Typhi AH

Petugas



Nurul Ricka Dwi R

Sabtu, 29 Oktober 2011

kendali mutu

HITUNG JUMLAH LEKOSIT












Kelompok 3
Anggota :
1.Eko Sukarno (A.101.14.016)
2.Farida Tri Nuraini (A.101.14.017)
3.Fury Masnita Sari (A.101.14.018)
4.Gani Septa (A.101.14.019)
5.Hani Mukhlis S (A.101.14.020)
6. Hapsari Prasetyani (A.101.14.021)
7. Ida Ratna Sari (A.1O1.14.O22)



PROLOG PRA ANALISA PEMERIKSAAN HITUNG JUMLAH LEUKOSIT
Persiapan Alat
1. Metode pipet
a. Pipet thoma leukosit
b. Kamar hitung
c. Mikroskop
d. Aspirator
e. Deck glass
f. Lancet steril
g. Sampel darah
h. Alkohol 70%
i. Kapas
j. Larutan pengencer
2. Metode Tabung
a. Tabung serologi
b. Parafilm
c. Kamar hitung
d. Deck glass
e. Lancet steril
f. Mikroskop
g. Aspirator
h. Sampel darah
i. Alkohol 70%
j. Kapas
k. Larutan pengencer









Menghitung Leukosit
Darah diencerkan dalam pipet leukosit, kemudian dimasukkan ke dalam kamar hitung. jumlah leukosit dihitung dengan volume tertentu ; dengan mengenakan faktor konversi jumlah leukosit per ul darah dapat diperhitungkan. larutan TURK digunakan sebagai larutan pengencer, dengan komposisi : larutan gentianviolet 1% dalam air 1 ml, asam asetat glasial 1 ml, aquadest ad 100 ml. saringlah sebelum dipakai.
Cara :
• Mengisi pipet Leukosit
1. Isaplah darah kapiler (kapiler, EDTA, atau oxalat) sampai pada garis tanda “0,5″ tepat.
2. Hapus kelebihan darah yang melekat pada ujung pipet
3. Masukkan ujung pipet kedalam larutan TURK sambil mempertahankan darah tetap pada garis tan tadi. pipet dipegang dengan sudut 45 derajat dan larutan TURK dihisap perlahan-lahan sampai garis tanda “11″ tepat. Hati-hati jangan sampai terjadi gelembung udara.
4. Angkatlah pipet dari cairan; tutup ujung pipet dengan ujung jari kemudian lepaskan karet penghisap.
5. Kocoklah pipet tadi selama 15-30 detik. jika tidak segera akan dihitung letakkan pipet dalam posisi horizontal.
• Mengisi kamar hitung
1. Letakkan kamar hitung yang telah benar-benar bersih dengan kaca penutup yang terpasang mendatar di atas meja.
2. Kocoklah pipet yang berisi tadi selama 3 menit terus menerus (jangan samapai ada cairan yang terbuang dari pipet saat mengocok)
3. Buang semua cairan yang ada pada batang kapiler pipet (3 – 4 tetes) dan kemudian sentuhkan ujung pipet (sudut 30 derajat) dengan menyinggung pinggir kaca penutup pada kamar hitung. Biarkan kamar hitung tersebut terisi cairan perlahan-lahan dengan gaya kapilaritasnya sendiri.
4. Biarkan kamar hitung yang sudah terisi tersebut selama 2-3 menit agar leukkosit-leukosit mengendap. jika tidak akan dihitung segera, simpan kamar hitung tersebut dalam cawan peti tertutup yang berisi kapas basah.
• Cara menghitung sel
1. Pakailah lensa objektif kecil (pembesaran 10x). turunkan lensa kondensor atau kecilkan diafragma mikroskop. meja mikroskop harus datar,
2. Kamar hitung dengan bidang bergaris diletakkan di bawah objektif dan fokus mikroskop diarahkan pada garis-garis bagi tersebut. Dengan sendirinya leukosit-leukosit akan jelas terlihat.
3. Hitunglah semua leukosit yang terdapat dalam keempat “bidang besar” pada sudut-sudut “seluruh permukaan yang dibagi”.
4. Mulailah menghitung dari sudut kiri atas, terus ke kanan, kemudian turun ke bawah dan dari kanan ke kiri dan seterusnya. Kadang ada sel yang menyinggung garis suatu bidang, sel-sel yang menyinggung garis batas sebelah kiri atau garis atas haruslah di hitung. Sebaliknya sel-sel yang menyinggung garis sebelah kanan dan bawah tidak boleh dihitung.
• Perhitungan
Pengenceran yang dilakukan pada pipet adalah 20 kali. Jumlah semua sel yang dihitung dalam keempat bidang itu dibagi 4 menunjukkan jumlah leukosit dalam 0,1 ul. Kalikan angka tersebut dengan 10 (untuk tinggi) dan 20 (untuk pengenceran) untuk mendapatkan jumlah leukosit dalam 1 ul darah. Singkatnya : Jumlah sel yang terhitung dikali 50 = jumlah leukosit per ul darah.
Catatan : Pengenceran yang lazim digunakan untuk menghitung leukosit adalah 20 kali, tetapi menurut keadaan (leukositosis tinggi atau leukopenia) pengenceran dapat diubah sesuai keadaan tersebut, lebih tinggi pada leukositosis dan lebih rendah pada leukopenia. Sedian darah dengan oxalat yang tidak segera dipakai ada kemungkinan terjadi penggumpalan leukosit. Jika darah tepi banyak mengandung sel darah merah berinti maka sel tersebut akan diperhitungkan seperti leukosit, untuk koreksi dapat dilakukan pemeriksaan sedian hapus yang dipakai untuk hitung jenis leukosit, persentase sel darah merah berinti di catat. misalnya ; didapatkan 10.000 leukosit per ul darah dan dari hitung jenis didapatkan tiap 100 leukosit ada 25 sel darah merah berinti, maka jumlah leukosit yang sebenarnya adalah :






PENANGANAN SPESIMEN / SAMPEL
Hasil pemeriksaan laboratorium umumnya digunakan oleh dokter untuk membantu menentukan diagnosa, memantau perjalanan penyakit serta menentukan prognosa. Karena itu perlu diketahui faktor yang mempengaruhi hasil pemeriksaan laboratorium. Terdapat 3 faktor utama yang dapat mengakibatkan kesalahan hasil laboratorium , yaitu :
1.Pra analitik
2.Analitik
3. Post analitik
Pada tahap pra Analitik sangat penting diperlukan kerjasama antara petugas, pasien dan dokter. Yang termasuk dalam tahapan pra analitik adalah :
1. Pemahaman instruksi dan pengisian formulir laboratorium
2. Persiapan penderita / pasien
3. Persiapan alat yang dipakai
4. Cara pengambilan sampel
5. Penanganan awal sampel ( termasuk pengawetan ) dan transportasi

SPESIMEN DAN SAMPEL
A.Spesimen
Adalah sejumlah darah yang diambil untuk pemeriksaan satu jenis atau lebih tes labortorium
B Sampel
Adalah sebagian (aliquot) spesimen darah yang diambil, dikirim dan diproses di dalam laboratorium sebagai bahan untuk pemeriksaan tertentu. Contoh : aliquot dari Wholeblood dengan antikoagulan , aliquot dari plasma , aliquot dari serum

1.PENANGANAN SPESIMEN
A. MACAM SPESIMEN
Spesimen yang berasal dari manusia dapat berupa :
1.Serum 9. Apus rectum, Apus Tenggorok
2.Plasma 10. Pus
3.Darah (Wholeblood) 11. Sperma
4. 12. Cairan pleura

5.Tinja 13. Cairan ascites
6. Sputum 14. Sekret : - Uretra - Mata
7.Cairan otak - Telinga
8.Bilasan lambung - Hidung



B. Persiapan
1 . persiapan secara umum
a. persiapan pasien untuk mengambil spesimen pada keadaan basal :
1) untuk pemeriksaan tertentu pasien harus puasa 8-12 jam sebelum diambil darah
2) pengambilan spesimen sebaiknya pagi hari antara pukul 07.00 – 09.00
b. menghindari obat obatan sebelum spesimen diambil.
1) untuk pemeriksaan dengan spesimen darah, tidak minum obat 4 – 24 jam
Sebelum pengambilan spesimen.
2) untuk pemeriksaan dengan spesimen darah, tidak minum obat 48 – 72 jam
Sebelum pengambilan darah
3) apabila pemberian obat tidak memungkinkan untuk dihentikan harus
Diinformasikan kepada petugas laboratorium
c. menghindari aktivitas fisik sebelum spesimen diambil
d. memperhatikan efek postur
untuk menormalkan keseimbangan cairan tubuh dari posisi berdiri keposisi duduk
dianjurkan pasien duduk tenang sekurang kurangnya 15 menit sebelum
pemeriksaan.
e. memperhatikan ariasi diurnal ( perubahan kadar analit sepanjang hari )
pemeriksaan yang dipengaruhi variasi diurnalperlu diperhatikan waktu
pengambilan darahnya, (pemeriksaan ACTH, renin, aldosteron.





















Kesalahan kesalahan pada tindakan menghitung leukosit
1.jumlah darah yang dihisap kedalam pipet tidak tepat jika :
a. bekerja terlalu lambat sehingga ada bekuan darah
b. tidak mencapai garis tanda 0,5
c. membaca dengan paralaks
d.memakai pipet basah
e. mengeluarkan sebagaian darah yang telah dihisapkarena meleati garis tanda 0,5
2. pengenceran dalam pipet salah jika :
a. kehilangan cairan dari pipet, karena mengalir kembali kedalam botol yang berisi larutan Turk
b. tidak menghisap larutan Turk tepat sampai garis 11
c. terjadi gelembung udara didalam pipet pada waktu menghisap larutan Turk.
d. terbuang sedikit cairan pipet pada waktu mengocok pipet atau pada waktu mencabut karet penghisap dari pipet
3. tidak mengocok pipet segera setelah mengambil larutan Turk
4. tidak mengocok pipet sebentar sebelum mengisi kamar hitung.
5. tidak membuang beberapa tetes dari isi pipet sebelum mengisi kamar hitung.
6. yang bertalian dengan kamar hitung dan teknik menghitung
a. kamar hitung atau kaca penutup kotor
b. ada gelembung udara termasuk bersama dengan cairan
c. letaknya kaca penutup salah
d. meja mikroskop tidak rata air
e. salah menghitung sel yang menyinggung garis garis batas
f. kaca penutup tergeser karena disentuh dengan lensa mikroskop

Minggu, 25 September 2011

Toksikologi

TOKSIOLOGI




Nama Anggota:
1. Adi gunawan (A.101.14.001)
2. Ageng Karisma (A.101.14.002)
3. Asri wulandari (A.101.14.006)
4. Eko sukarno (A.101.14.015)
5. Hani (A.101.14.020)
6. Ida Ratna Sari (A.101.14.022)
7. Intan Kartika (A.101.14.024)
8. Ismi setya (A.101.14.025)
9. Latifah (A.101.14.027)
10. Maria Ulfah (A.101.14.030)


AKADEMI ANALIS KERSEHATAN NASIONAL SURAKARTA 2011

1. Drugh Intoxications : a. Nikotin

Nikotina adalah senyawa kimia organik kelompok alkaloid yang dihasilkan secara alami pada berbagai macam tumbuhan, terutama suku terung-terungan (Solanaceae) seperti tembakau dan tomat. Nikotina berkadar 0,3 sampai 5,0% dari berat kering tembakau berasal dari hasil biosintesis di akar dan terakumulasi di daun.
Nikotina merupakan racun saraf yang potensial dan digunakan sebagai bahan baku berbagai jenis insektisida. Pada konsentrasi rendah, zat ini dapat menimbulkan kecanduan, khususnya pada rokok. Nikotina memiliki daya karsinogenik terbatas yang menjadi penghambat kemampuan tubuh untuk melawan sel-sel kanker, akan tetapi nikotina tidak menyebabkan perkembangan sel-sel sehat menjadi sel-sel kanker.
b. Antibiotik


Antibiotika adalah segolongan senyawa, baik alami maupun sintetik, yang mempunyai efek menekan atau menghentikan suatu proses biokimia di dalam organisme, khususnya dalam proses infeksi oleh bakteri. Penggunaan antibiotika khususnya berkaitan dengan pengobatan penyakit infeksi, meskipun dalam bioteknologi dan rekayasa genetika juga digunakan sebagai alat seleksi terhadap mutan atau transforman. Antibiotika bekerja seperti pestisida dengan menekan atau memutus satu mata rantai metabolisme, hanya saja targetnya adalah bakteri. Antibiotika berbeda dengan desinfektan karena cara kerjanya. Desifektan membunuh kuman dengan menciptakan lingkungan yang tidak wajar bagi kuman untuk hidup.

Tidak seperti perawatan infeksi sebelumnya, yang menggunakan racun seperti strychnine, antibiotika dijuluki "peluru ajaib": obat yang membidik penyakit tanpa melukai tuannya. Antibiotik tidak efektif menangani infeksi akibat virus, jamur, atau nonbakteri lainnya, dan Setiap antibiotik sangat beragam keefektifannya dalam melawan berbagai jenis bakteri. Ada antibiotika yang membidik bakteri gram negatif atau gram positif, ada pula yang spektrumnya lebih luas. Keefektifannya juga bergantung pada lokasi infeksi dan kemampuan antibiotik mencapai lokasi tersebut.

c. Tar


Rokok mengandung kurang lebih 4000 elemen-elemen, dan setidaknya 200 diantaranya dinyatakan berbahaya bagi kesehatan. Racun utama pada rokok adalah tar, nikotin, dan karbon monoksida.
Tar adalah substansi hidrokarbon yang bersifat lengket dan menempel pada paru-paru.
Nikotin adalah zat adiktif yang mempengaruhi syaraf dan peredaran darah. Zat ini bersifat karsinogen, dan mampu memicu kanker paru-paru yang mematikan.
Karbon monoksida adalah zat yang mengikat hemoglobin dalam darah, membuat darah tidak mampu mengikat oksigen.

d. Potasium

Potasium klorat atau kalium klorat yang memiliki rumus kimia KCL seperti bahan klorat lain adalah bahan oksidator umum yang ditemui di laboratorium kimia. Bahan ini merupakan oksidator yang relatif kuat. Kalium klorat diproduksi dalam skala besar untuk industri kembang api korek api, peledak, dan antiseptik.

Sebagian besar piroteknik dan bahan peledak berdaya ledak rendah, beroperasi berdasarkan proses reaksi antara "bahan bakar" dan oksigen untuk menghasilkan panas, suara, atau gas.

Piroteknik adalah bahan untuk menghasilkan api, nyala, cahaya panas, suara ledakan, atau asap, tetapi bukan ledakan hebat, misalnya korek api, pengembang airbag, granat, pelet bahan bakar untuk tungku, dan sebagainya. Walaupun di udara ada oksigen, laju pembakaran akan terbatas bila hanya mengandalkan suplai oksigen atmosfer.
e. Kortikosteroid

Kortikosteroid adalah nama jenis hormon yang merupakan senyawa regulator seluruh sistem homeostasis tubuh organisme agar dapat bertahan menghadapi perubahan lingkungan dan infeksi.[1]
Hormon kortikosteroid terdiri dari 2 sub-jenis yaitu hormon jenis glukokortikoid dan hormon jenis mineralokortikoid. Keduanya memiliki pengaruh yang sangat luas, seperti berpengaruh pada perubahan lintasan metabolisme karbohidrat, protein dan lipid, serta modulasi keseimbangan antara air dan cairan elektrolit tubuh; serta berdampak pada seluruh sistem tubuh seperti sistem kardiovaskular, muskuloskeletal, saraf, kekebalan, dan fetal termasuk mempengaruhi perkembangan dan kematangan paru pada masa janin.
Pada sistem endokrin, kortikosteroid mempengaruhi aktivitas beberapa hormon yang lain. Misalnya mengaktivasi hormon jenis katekolamin dan menstimulasi sintesis hormon adrenalin dari hormon noradrenalin, atau pada kelenjar tiroid, kortikosteroid menghambat sekresi hormon TSH dan menurunkan daya fisiologis tiroksin. Aktivitas hormon GH juga terhambat meskipun pada simtoma akromegali, kortikosteroid justru meningkatkan sekresi hormon GH dengan keberadaan hormon ACTH. Pada masa tumbuh kembang, terapi hormon kortikosteroid atau simtoma hiperkortisisme dapat menyebabkan pertumbuhan seorang anak terhenti sama sekali, sebagai akibat dari penurunan kematangan epiphyseal plates dan pertumbuhan tulang panjang. Dengan konsentrasi yang lebih tinggi, kortikosteroid akan menghambat sekresi hormon LH pada kelenjar gonad yang seharusnya dilepaskan sel gonadotrop sebagai respon atas stimulasi hormonal.
2. Food Intoxications : a. Bontulinum : kaleng makanan

Botulism adalah penyakit serius yang menyebabkan kelumpuhan yang lembut dari otot-otot. Ia disebabkan oleh neurotoxin, yang untuk umum disebut racun botulinum, yang dihasilkan oleh bakteri-bakteri Clostridium botulinum. Ada tujuh neurotoxins (tipe-tipe A-G) yang berbeda yang dihasilkan oleh Clostridium botulinum, namun tipe-tipe A, B, dan E (jarang F) adalah yang paling umum yang menghasilkan kelumpuhan yang lembut pada manusia-manusia. Tipe-tipe lain utamanya menyebabkan penyakit pada hewan-hewan. Kebanyakan spesi-spesi Clostridium menghasilkan hanya satu tipe dari neurotoxin.

Sejarah yang direkam dari botulism mulai pada tahun 1735, ketika penyakitnya pertama dihubungkan dengan sosis Jerman (penyakit yang dilahirkan oleh makanan, atau keracunan makanan setelah memakan sosis). Pada tahun 1870, dokter Jerman dengan nama Muller memperoleh nama botulism dari kata Latin untuk sosis. Bakteri clostridium botulinum pertamakali diisolasi pada tahun 1895, dan neurotoxin yang dihasilkannya diisolasi pada tahun 1944 oleh Dr. Edward Schantz.

b. Mercuri : ikan

Toksisitas logam adalah terjadinya keracunan dalam tubuh manusia yang diakibatkan oleh bahan berbahaya yang mengandung logam beracun.[1] Zat-zat beracun dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui pernapasan, kulit, dan mulut.[1] Pada umumnya, logam terdapat di alam dalam bentuk batuan, bijih tambang, tanah, air, dan udara.[2] Macam-macam logam beracun yaitu raksa/merkuri (Hg), kromium (Cr), kadmium (Cd), tembaga (Cu), timah (Sn), nikel (Ni), arsene (As), kobalt (Co), aluminium (Al), besi (Fe), selenium (Se), dan zink (Zn).[3] Walaupun kadar logam dalam tanah, air, dan udara rendah, namun dapat meningkat apabila manusia menggunakan produk-produk dan peralatan yang mengandung logam, pabrik-pabrik yang menggunakan logam, pertambangan logam, dan pemurnian logam.[3] Contohnya penggunaan 25.000-125.000 ton raksa per tahun pada pabrik termometer, spigmanometer, barometer, baterai, saklar elektrik, dan peralatan elektronik.[2]
c. sakazaki : susu

Bakteri Enterobacter sakazakii dapat menghasilkan enterotoksin, atau bahan atau zat racun yang tahan panas. Racun dari bakteri ini dapat menyebabkan enteritis atau radang usus. Selain itu juga bisa menyebabkan sepsis atau keracunan oleh hasil proses pembusukan.tidak itu saja, racun dari bakteri Enterobacter sakazakii juga bisa menyebabkan meningitis atau peradangan pada selaput otak dan sumsum tulang belakang. Wah ngeri juga yaks :sedih: Namun menkes menjelaskan bahwa susu tersebut aman jika disajikan menggunakan air masak dengan suhu diatas 70°c
d. boraks : tahu, bakso

Boraks biasanya bersifat iritan dan racun bagi sel-sel tubuh, berbahaya bagi susunan saraf pusat, ginjal dan hati. Jika tertkena dengan kulit dapat menimbulkan iritasi. Dan jika tertelan akan menimbulkan kerusakan pada usus, otak atau ginjal (Himpunan alumni fateta, 2005).
Boraks menimbulkan efek racun pada manusia, toksisitas boraks yang terkandung di dalam makanan tidak langsung dirasakan oleh konsumen. Boraks apabila terdapat pada makanan, maka dalam waktu jangka lama walau hanya sedikit akan terjadi akumulasi (penumpukan) dalam otak, hati, ginjal dan jaringan
Boraks adalah senyawa dengan nama kimia natrium tetraborat (NaB4O7). berbentuk padat, jika terlarut dalam air akan menjadi natrium hidroksida dan asam borat (H3BO3). Dengan demikian bahaya boraks identik dengan bahaya asam borat (Khamid, 1993).
e. jamur : makanan basi

Peranan jamur dalam kehidupan manusia sangat banyak, baik peran yang merugikan maupun yang menguntungkan. Jamur yang menguntungkan meliputi berbagai jenis antara lain sebagai berikut.
a. Volvariella volvacea (jamur merang) berguna sebagai bahan pangan
berprotein tinggi.
b. Rhizopus dan Mucor berguna dalam industri bahan makanan, yaitu
dalam pembuatan tempe dan oncom.
c. Khamir Saccharomyces berguna sebagai fermentor dalam industri
keju, roti, dan bir.
d. Penicillium notatum berguna sebagai penghasil antibiotik.
e. Higroporus dan Lycoperdon perlatum berguna sebagai dekomposer.

Di samping peranan yang menguntungkan, beberapa jamur juga mempunyai peranan yang merugikan, antara lain sebagai berikut.
a. Phytium sebagai hama bibit tanaman yang menyebabkan penyakit
rebah semai.
b. Phythophthora inf'estan menyebabkan penyakit pada daun tanaman
kentang.
c. Saprolegnia sebagai parasit pada tubuh organisme air.
d. Albugo merupakan parasit pada tanaman pertanian.
e. Pneumonia carinii menyebabkan penyakit pneumonia pada paru-paru
manusia.
f. Candida sp. penyebab keputihan dan sariawan pada manusia.


f. urosiol : kacang mete


Kadar lemak total pada 100 gram kacang mete mentah, panggang, dan goreng, masing mas 47, 5, dan 56 gram. Tingginya kadar lemak pada biji mete sangat berperan penting dalam peningkatan kadar energi dan cita rasa. Itulah yang menyebabkan biji mete sangat enak dan lezat rasanya.

Sekilas, data kadar lemak tersebut tampak sangat menakutkan karena lemak sering dituding sebagai penyebab obesitas dan timbulnya berbagai penyakit degeneratif. Namun, bila kita cermati komposisi lemak penyusunnya kita tidak perlu khawatir berlebihan terhadap lemak mete.

Lemak pada kacang mete tersusun atas 18 persen asam lemak jenuh dan 82 persen asam lemak tidak jenuh. Asam lemak jenuh yang sangat ditakuti karena dituding sebagai penyebab timbulnya berbagai penyakit, ternyata kadarnya sangat rendah pada kacang mete. Asam lemak jenuh pada kacang mete didominasi oleh palmitat dan stearat.

g. capcaisin :cabe

Kapsaisin (8-metil-N-vanilil-6-nonenamida) termasuk di dalam Kapsaisinoid, yaitu zat kimia yang menimbulkan rasa pedas yang ada dalam tumbuh-tumbuhan, seperti cabai.
Rasa pedas ini muncul karena kapsaisin menciptakan isyarat yang sama bagi otak seperti saat kulit terkena panas. Berbeda dengan panas, rasa panas dari lidah ini hanya "rasa", bukan terbakar sesungguhnya.
Polisi sering menggunakan kapsaisin untuk menggendalikan massa demonstran. Cairan kapsaisin ini lazim disebut "gas air mata", yang mudah membuat iritasi orang.



h. glikoalkoloid : kentang

Kentang hijau tidak terlihat menggiurkan. Ini menguntungkan karena bagian yang hijaun itu mengandung racun bernama glikoalkaloid yang kadarnya tinggi sehingga menyebabkan kentang terasa pahit. Makanan bagian kentang yang hijau bisa berbahaya, dan meski efek yang paling mungkin hanyalah gangguan perut ringan, ada beberapa kasus dengan dampak yang lebih serius
i. sianida :almond, apel

Sianida adalah senyawa kimia yang mengandung kelompok siano C≡N, dengan atom karbon terikat-tiga ke atom nitrogen.
Kelompok CN dapat ditemukan dalam banyak senyawa. Beberapa adalah gas, dan lainnya adalah padat atau cair. Beberapa seperti-garam, beberapa kovalen. Beberapa molekular, beberapa ionik, dan banyak juga polimerik. Senyawa yang dapat melepas ion sianida CN− sangat beracun.
3. War Toxicans : a. Gas CO2

Bagi manusia dampak CO dapat menyebabkan gangguan kesehatan sampai kematian, karena CO bersifat racun metabolis, ikut bereaksi secara metabolis dengan hemoglobin dalam darah (Hb) :
Hb + O2 ⎯→ O2Hb (oksihemoglobin)
Hb + CO ⎯→ COHb (karboksihemoglobin)
COHb 140 kali lebih stabil daripada O2Hb.
Tanda-tanda keracunan gas CO adalah: pusing, sakit kepala dan mual. Keadaan yang lebih berat lagi adalah: kemampuan gerak tubuh menurun, gangguan pada sistem kardiovaskular, serangan jantung, sampai dengan kematian.
b. radiasi nuklir dan radiasi bom atom



Senjata nuklir mempunyai dua tipe dasar. Tipe pertama menghasilkan energi ledakannya hanya dari proses reaksi fisi. Senjata tipe ini secara umum dinamai bom atom (atomic bomb, A-bombs). Energinya hanya diproduksi dari inti atom.
Pada senjata tipe fisi, masa fissile material (uranium yang diperkaya atau plutonium) dirancang mencapai supercritical mass - jumlah massa yang diperlukan untuk membentuk reaksi rantai- dengan menabrakkan sebutir bahan sub-critical terhadap butiran lainnya (the "gun" method), atau dengan memampatkan bulatan bahan sub-critical menggunakan bahan peledak kimia sehingga mencapai tingkat kepadatan beberapa kali lipat dari nilai semula. (the "implosion" method). Metoda yang kedua dianggap lebih canggih dibandingkan yang pertama. Dan juga penggunaan plutonium sebagai bahan fisil hanya bisa di metoda kedua.


Daftar pustaka :
1. Wikipedia indonesia
2. Www.rokoksin-online.com
3. www.strategyeasy.com

Selasa, 14 Juni 2011

intel atom dual core n550


sekarang ada kabar menguntungkan dari pasar netbook, prosesor dual core intel atom pertama yakni n550  muncul dikisaran kuartal ketiga 2010. prosesor tersebut memiliki kecepatan 1,5GHz dengan L2 chace sebesar 1MB ( yang ,asing - masing 512 KB L2 cache per core). sehingga internetan berjalan dengan lancar  dan responsif terhadap prosesor dual core yang sangat hemat daya ini.
prosesor ini memang bukan prosesor dual core atom yang pertama dipasangkan pada netbook. sebagai informasi, asus EeePC 1201N memiliki prosesor atom 330 dual core. akan tetapi prosesor tersebut bukanlah prosesor yabg didesain khusus untuk netbook, tetapi didesain untuk nettop.
dari sisi konsumsi energi, tidak ada perbedaan yang siknifikan. sejumlah sumber menyebutkan, atom n550 mengkonsumsi daya hingga rata-rata 8,5 watt. meski lebih sedikit boros dibanding atom 330 yang mengkonsumsi daya rata - rata 8 watt, tetapi angak tersebut lebih baik jika dibanding prosesor masa kini yang memiliki fungsi chips northbridge yang terpasang pada prosesor.
Adalah Aspire One D255, netbook yang menggunakan teknologi baru Intel Atom N550 dengan prosesor Dual Core dalam berbagai warna dan corak serta gaya baru untuk menjawab kebutuhan konsumen akan gaya hidup dan mobilitas. Konsumen cukup dimanjakan dengan kehadiran Netbook Dual Core Aspire One D255 ini, karena hadirnya Acer D255 akan membawa era baru dalam dunia Netbook.

Tersedia dalam 5 pilihan warna yakni Aquamarine Blue, Diamond Black, Ruby Red, Sandstone Brown, dan Seashell White, AOD 255 menggunakan layar 10,1 inci dengan resolusi 1024 x 600 piksel. Intel GMA 3150 dengan memori grafis 64MB serta DDR3 1GB tersedia di dalamnya.
Berapakah Harga Acer Aspire D255 Netbook Terbaru 2010 ini? Dengan mengeluarkan uang 3 atau 3 1/2 juta, kita sudah bisa mempunyai dan menggunakan Netbook Aspire One D255. Netbook yang sudah beredar di pasaran ini tersedia dalam 2 versi, yang menggunakan sistem
operasi Windows 7 Starter (dijual seharga Rp3,5 juta) serta versi yang menggunakan sistem operasi Linux (dijual seharga Rp3 juta). Keduanya diklaim mampu beroperasi hingga 8 jam.
Spesifikasi Acer Aspire One D255 :
- Prosesor: Intel Atom N550 (1MB L2 Cache, 1,5Ghz, 8 watt).
- Memori: Single channel DDR3 1GB.
- Display: 10,1 inch, resolusi 1024 X 600 (WSVGA).
- Kartu grafis: Intel 3150, dengan 64MB Ram dedicated.
- Hardisk: 160/250 GB
- Berat: 1,25 KG (termasuk baterai 6 sel).
- Daya tahan baterai: Sekitar 8 jam
NEW HP MINI NOTE 110-3504/3505/3506
SPEC:
Processor intel® Atom™ Processor N550 dual core (1.5 GHz, Cache 1 MB)
Standard Memory 1 GB DDR3 SODIMM PC-10600
Video Type Intel® Graphics Media Accelerator 3150 256 MB (shared)
Display Size 10.1" WSVGA LED
Display Technology Anti-glare LED
Hard Drive Type 320 GB Serial ATA 7200 RPM
Bluetooth
CardReader
Webcamera
6-Cell Rechargeable Lithium-ion Battery
Dimension (WHD) 26.8 x 2.28 x 19.1 cm
Weight 1.4 kg
1-year Hewlett Packer Warranty (RESMI)
3 color :red,white,blue
Kelebihan Intel Atom N550 Dengan Core Duo
Review Acer Aspire One D255 The New Atom Processor Hardware D255 Ini Merupakan Netbook Dengan Processor Intel Atom N550 2 Core Kelebihan + Processor from panggungponsel.com
Kelebihan Intel Atom Processor N550
Acer Aspire One D255 Intel Atom N550 DualCore Laptop Previews Acer Aspire Launches New Netbook Aspire One D255 Which Offers New Technology Intel Atom N550 Dual from panggungponsel.com

intel atom dual core n5550


Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More